Penyelengara Umroh dan Haji Plus Bandung

Jalan Menuju Baitullah

Penyelengara Umroh dan Haji Plus Bandung - Jalan Menuju Baitullah

Menanamkan Pengetahuan Haji Sejak Dini pada Anak-Anak

Last Update : 2011-11-09 16:56:48

Setiap tahun kaum Muslimin di seluruh dunia menyiapkan diri untuk menyambut musim haji, terutama mereka yang akan berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Pada musim haji, media cetak maupun elektronik juga menyiarkan secara langsung pelaksanaan ibadah haji. Sehingga kata haji mungkin sering didengar oleh anak-anak kita di rumah. Anak-anak yang masih kecil belum begitu memahami apa itu ibadah haji, dan bisa jadi orang tua menemukan kesulitan untuk menjelaskan dengan bahasa dan cara yang mudah dimengerti, ketika anak-anak bertanya tentang ibadah haji. Berikut ada beberapa tips untuk membantu para orang tua untuk menjelaskan pada anak-anak tentang ibadah haji dengan cara yang mudah dan sederhana, sehingga mudah dimengerti anak-anak. Menyiapkan Bahan Pelajaran – Orang tua harus membekali diri dengan baik pengetahuan tentang ibadah haji, sebelum bicara dengan anak-anak. Cari artikel atau miliki buku-buku islam untuk anak-anak, dan cari tahu apa yang mungkin dikatakan anak-anak tentang haji. Ini untuk membantu orang tua mencari poin penting yang harus dijelaskan pada anak-anak. – Orang tua harus melakukan hal yang lebih dari sekedar bicara saat menjelaskan tentang ibadah haji pada anak-anak. Carilah foto atau gambar orang yang sedang menunaikan ibadah haji, poster-poster tentang haji, peta, alamat situs di internet, buku-buku atau kaset video, untuk membantu anak-anak mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang ibadah haji.

Poin-Poin Penting Pelajaran – Jelaskan tentang lima rukun Islam dimana haji menjadi salah satu dari lima rukun Islam tersebut. – Setiap muslim hanya berkewajiban menunaikan ibadah haji satu kali seumur hidup, terutama bagi mereka yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan haji. – Ibadah haji adalah ibadah menyeluruh yang melibatkan tubuh, pikiran dan jiwa. – Ceritakan kisah Nabi Ibrahim dan pengorbanan yang diminta Allah Swt. atas Nabi Ibrahim, yang menjadi latar belakang perayaan hari Idul Adha pada musim haji. – Jelaskan pada anak-anak bahwa umat Islam dari berbagai latar belakang, dari seluruh penjuru dunia, berkumpul jadi satu untuk menyembah Allah Swt, dan jelaskan alasan mengapa seluruh umat Islam ingin sekali bisa menunaikan ibadah haji. Langkah-langkahnya: 1. Ajak anak-anak diskusi sambil menjelaskan tahapan-tahapan ibadah haji. Orang tua bisa membuat model Kabah, dan jika mungkin gunakan boneka-boneka kecil untuk mendemonstrasikan apa saja yang dilakukan umat Islam saat berhaji. 2, Beritahukan pada anak-anak, pakaian yang digunakan saat ibadah haji, dan mengapa pakaian itu yang digunakan. Ajaklah salah seorang anak Anda untuk menjadi model bagaimana cara mengenakan pakaian ihram. 3. Jelaskan tentang kalimat Talbiyah yang diucapkan jamaah haji selama berhaji dan ajak anak-anak untuk mengucapkan kalimat talbiyah dan takbir bersama-sama. 4. Sebagai tambahan informasi untuk anak-anak, orang tua bisa menjelaskan secara detik tentang apa itu bangunan Kabah dan dari bahan apa Kabah dibuat. 5. Ceritakan apa yang dilakukan jamaah haji di dekat Kabah; -Apa yang dilakukan jamaah haji di Arafah, di Mina dan di Musdalifa. -Jelaskan pula bahwa ibadah haji berbeda dengan perjalanan liburan -Dorong anak-anak untuk menanamkan ide dalam pikirannya bahwa umat Islam yang pergi haji berharap perjalanan haji itu bisa membawa perubahan pada diri mereka, sehingga sepulangnya dari haji, kehidupan spiritual mereka makin meningkat. Sesi Latihan Setelah memberikan penjelasan detil tentang ibadah haji, lakukan sesi latihan untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka tentang ibadah haji yang sudah dijelaskan. Mintalah anak-anak Anda untuk menjelaskan atau memperlihatan bagaimana sikap seseorang yang telah menunaikan haji dan bagaimana mereka merasakan perjalanan ibadah haji. Izinkan anak-anak untuk menggunakan berbagai material seperti foto, gambar, buku, peta, kaset video sebagai akses mereka menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda, misalnya; -Tunjukkan di peta tempat-tempat yang menjadi lokasi ibadah haji di Makkah. -Siapa saja yang harus menunaikan haji dan kapan ibadah haji dilakukan? -Apa yang dikenakan kaum Muslim saat menunaikan haji, dan mengapa? -Dimana letak Kabah? Seperti apa bentuknya? Siapa yang membangunnya? -Apa yang dilakukan jamaah haji saat pertama kali melihat Kabah di Makkah, dan mengapa mereka melakukan itu? -Apa yang dilakukan jamaah haji saat di Arah? Dengan menjawab semua pertanyaan ini, anak-anak Anda akan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik soal ibadah haji dan makna ibadah haji. (eramuslim.com)

Mengapa Kita Membaca AlQuran Meskipun Tidak Mengerti Satupun Artinya?

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari.

Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “.

Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya.

Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.

* Kaskus

Pengobatan Islam – Thibun Nabawi

Tibhun Nabawi Adalah:

  • Ilmu kedokteran Islam yang bersumber pada Al Qur’an dan Al Haditts
  • Methode Pengobatan yang diajarkan Rasulullah SAW
  • Bukti ilmiah dan rahasia kesembuhan dalam pengobatan Nabawi

Istilah atau sebutan “Thibun Nabawi”, dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke-13 Masehi untuk memudahkan klasifikasi ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan kepada Allah, serta bimbingan Al Qur’am dan As Sunah.

Ibnu kholdun dalam muqodimahnya, mengatakan bahwa kedokteran islam (Thibun Nabawi) muncul sebagai integrasi ilmu integrasi ilmu kedokteran yunani, persia, india, china, dan mesir yang dipandu dengan wahyu Nabi.

Thibun Nabawi merupakan perpaduan berbagai disiplin ilmu kedokteran yang dikembangkan umat islam keseluruh dunia, dari arab ke eropa dan ke seluruh barat pada awal abad ke-19 orang Yahudi dan Nasrani menghapuskan ilmu kedokteran yang bernilaikan Islam dan berdasarkan wahyu Illahi dari kurikulum sekolah mereka di negara-negara eropa.

Ibnu Shina (980 – 1037) yang oleh orang-orang barat kepandaiannya dianggap sejajar dengan aristoteles, telah menulis buku yang terbaik “‘Al qonun Fi’th/Tibb” (Canon of medicine) yang sampai saat ini disebut bapak kedokteran islam, namun sebenarnya Ibnu Shina adalah seorang ulama sufi yang terkesan dengan pembelajaran tentang pengobatan karena kegigihan dokter-dokter muslim dalam mengembangkan ilmu kedokteran, maka akhirnya kedokteran islam menguasai dunia.  Ibnu Shina adalah satu contoh dari otodidak muslim yang sanggup meluaskan dan memperdalam pengetahuannya dengan kekuatan hati dan otak sendiri dan tak merasa perlu akan diploma, ia lebih mementingkan amal daripada pujian ijazah, meninggikan hakekat daripada kemolekan bungkus.

M. Natsir – Dalam Perfektif Sejarah Islam

Setiap kata yang diucapkan rasulullah dalam bidang kedokteran bukan berlandaskan dari ilmu yang tertuang dalam tulisan, melainkan dari wahtu yang terjaga dari Allah.  ” Orang mukmin yang kuat lebih baik daripada orang muslim yang lemah”  (HR Muslim, Ibnu Majjah, dan Ahmad)

* Narated by my Son Muhammad Dzikri Ramadhan Yudhanegara.

Meluruskan dan Merapatkan Shaf dalam Shalat

Assalamualaikum wr wb

Didalam kitab “al Mausu’ah” disebutkan bahwa para ulama bersepakat sunnah muakkadah meluruskan shaf-shaf didalam shalat berjamaah dimana sebagian orang yang shalat tidak boleh lebih maju dari sebagian lainnya, serta merapatkan shaf-shaf dimana tidak terdapat celah ditengah-tengahnya.

Terdapat beberapa hadits yang berisi anjuran tentang ini, diantaranya,” ‘Samakanlah shaf-shaf kalian, karena penyamaan shaf termasuk kesempurnaan shalat’.” Didalam riwayat lain,” Sesungguhnya lurusnya shaf adalah bagian dari ditegakkannya shalat.”

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,”Luruskanlah shaf dan rapatkanlah, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku.” Dan sabdanya shalallhu ‘alaihi wa sallam,” “Luruskanlah shaf kalian, atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian.” (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 4414)

Adapun ukuran kerapatan shaf maka dengan menempelnya pundak seorang yang melaksanakan shalat dengan pundak orang sebelahnya dan menempelnya mata kakinya dengan mata kaki sebelahnya pada saat berdiri dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Luruskanlah shaf (barisan), karena kalian berbaris dengan barisan para malaikat. Dan setarakanlah pundak-pundak kalian, tutuplah barisan yang lowong, dan berlunaklah terhadap tangan saudara kalian, dan jangan biarkan barisan yang lowong untuk dimasuki setan. Dan barangsiapa menyambung barisan shalat, Allah akan menjalin hubungan terhadapnya, sebaliknya barangsiapa memutuskan shaf, Allah juga memutus hubungan terhadapnya.”

Markaz al Fatwa didalam fatwanya menyebutkan bahwa menyamakan shaf adalah dengan menempelkan pundak dengan pundak dan mata kaki dengan mata kaki. Didalam Shahih Bukhari disebutkan “Bab Menempelkan pundak dengan pundak dan kaki dengan kaki didalam shaf”. Nu’man bin Basyir mengatakan,”Aku melihat seorang laki-laki dari kami menempelkan pundaknya ke pundak temannya.”

Al Hafizh Ibnu Hajar didalam ‘al Fath” mengatakan “Berdasarkan dalil dari hadits Nu’man bin Basyir ini bahwa maksud dari mata kaki didalam ayat tentang wudhu adalah tulang yang menonjol pada kedua sisi kaki, yaitu tempat pertemuan antara betis dengan telapak kaki, dan bagian inilah yang memungkinkan untuk bisa ditempelkan dengan sebelahnya.
Hal itu berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa mata kaki adalah bagian akhir kaki. Ini adalah pendapat yang ganjil yang dinisbatkan kepada sebagian ulama Hanafi sedangkan para peneliti mereka belum meneguhkan pendapat ini sementara sebagian dari mereka meneguhkannya didalam permasalahan haji bukan wudhu. “

Oleh karena itu meluruskan shaf adalah menempelkan pundak dengan pundak dan mata kaki dengan mata kaki.. (Markaz al Fatwa No. 47970)

Kewajiban menunaikan ibadah Haji dan Umroh

Semoga Allah melimpahkan kepada taufiq dan hidayahnya kepadaku dan saudaraku kaum muslimin dan muslimat,  untuk mengenali kebenaran dan mengikutinya, bahwasanya Allah mewajibkan atas para hamba-Nya untuk menunaikan haji ke baitullah dan hal itu dijadikan-Nya sebagai salah satu rukun islam.

Allah berfirman  :

“waman dakhalahu kaana aaminan walillaahi ‘alaa alnnaasi hijju albayti mani istathaa‘a ilayhi sabiilan waman kafara fa-inna allaaha ghaniyyun ‘ani al’aalamiina

Menunaikan haji adalah kewajibanmanusia terhadapa Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan menuju Baitullah.  Dan, barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak membutuhkan sesuatu) dari semesta alam.  (Ali Iran : 97)

Didalam shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu Umar, Nabi s.a.w bersabda:

“Islam itu didirikan atas Lima Pilar”

  1. Kesaksian bahwa tiada Tuhan (Yang hak disembah) kecuali Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah Rasul Allah.
  2. Mendirikan shalat
  3. Mengeluarkan Zakat
  4. Puasa pada bulan Rmadhan
  5. Mengerjakan haji ke Baitullah

Sa’id dalam kitab sunahnya, meriwatkan dari Umar bin Khatab:

Dari Umar bin Khatab, ia berkata: “Aku bertekad mengutus beberapa orang menuju wilayah-wlayah ini untuk meneliti siapa yang memiliki kecukupan hartta, namun tidak menunaikan haji, agar diwajibkan atas mereka membayar jizyah.  Mereka bukanlah muslim.

Diriwatkan dari Ali bahwa ia berkata:

“Barang siapa berkemampuan menuanikan haji lalu ia tidak menunaikannya, maka terserah baginya memilih mati dalam keaadaan beragama yahudi atau nasrani.

Bagi orang-orang yang belum haji, sementara mampu menunaikannya, ia wajib segera menunaikannya, berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas, bahwasannya Nabi s.a.w bersabda:

“Cepat-cepatlah kalian menunaikan haji, yakni haji wajib, karena sesungguhnya seseorang dianta kamu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya (Hadits riwayat Imam Ahmad bin Hanbal)

Disamping itu, karena pelaksanaan haji bagi orang yang mampu wajib disegerakan (tanpa ditunda-tunda), berdasarkan firman Allah pada sural Ali Imran ayat 97 diatas, dan sabda Nabi Muhammad s.a.w dalam hutbahnya: “Wahai umat manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan haji atqas kamu, mka laksanakanlah haji.

Tentang kewajiban umroh, banyak hadits yang menunjukan hal itu. Diantaranya, saba Rasulullah s.a.w tatkala menjawab pertanyaan jibril tentang islam beliau menjawab:

Islam itu adalah:

“Anda bersaksi bahwasannya tiada Tuhan (yang haq disembah) selain Allah dan bahwasannya Muhammad adalah Rasul Allah;

  • Anda dirikan shalat;
  • Anda tunaikan zakat;
  • Anda laksanakan haji dan umrah;
  • Anda bermandi janabat;
  • Anda sempurnakan wudlu; dan anda berpuasa pada bulan Ramadhan. (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ad-Daraquthni dari Umar bin Khatab.  Ad-Daraquthni berkata:sanad dari hadits ini Shahih).

Selain itu , hadits dari Aisyah ra:

Aisyah bertanya:  “Wahai Rasulullah, adakah kewajiban jihad bagi wanita?  Beliau menjawab: “Bagi mereka ada kewajiban tanpa peperangan, yaitu Haji dan Umrah “(Hadits riwayat imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

Haji dan umrah hanya diwajibkan sekali saja seumur hidup.  Hal ini berdasarkan sabda Nabi : ” Haji  itu hanya sekali (Wajibnuaya).  Barang siapa menambah (melakukan lebih dari satu kali), maka itu merupakan ‘tathawwu’ (amalah sunnah atas kerelaan)

Dsunnahkan banyak melakukan Haji dan Umrah sebagai tathawwu’ (amalan tambahan), berdasarkan dadits dalam shahih al-Bukhari dan Muslim:

“Dari abu harairah-radhiallahu ‘anhu, ia berkata:  ” Rasulallah s.a.w bersabda: “Urah ke umrah berikutnya adalah menutupi (kafarat) kesalahan-kesalahan yang terjadi anta keduanya, dan haji yang mabrur itu imbalannya tiada lain adalah “Surga”……!

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.  Amin…

 

Wassallam